Kredit Multiguna, Pilihan Untuk Membeli Rumah Kedua

Rumahrukomalang.com, Malang-

Pengetatan kredit pemilikan rumah (KPR) yang dilakukan Bank Indonesia (BI) cukup efektif menekan investor properti dan mengerem laju kenaikan harga properti. Namun pembatasan ini membuat perbankan sulit merealisasikan target penyaluran kredit khususnya di sektor properti. Untuk  mempertahankan portofolio kreditnya bank menggenjot kredit konsumer non KPR untuk pembelian rumah.

Salah satunya Permata Bank yang mengeluarkan Permata Multiguna Alternate Collateral (PMAC). Produk  ini merupakan kredit multiguna beragunan properti untuk membeli properti lain.  “Dengan PMAC kita bisa beli rumah kedua dengan mengagunkan rumah kita. Kalau rumah yang akan diagunkan sudah diagunkan ke bank lain, kita bisa take over sekaligus di-top up untuk mendapatkan kredit lagi dari rumah tersebut,” ujar Dewi Damajanti Widjaja, Vice President Head, Marketing & Product Development PermataBank, kepada housing-estate.com, Jumat (6/2).

KPR Permata Bank

Top up adalah menambah nilai kredit atau pinjaman terhadap agunan yang sama. Penambahan pinjaman ini diberikan karena setelah beberapa tahun nilai rumah tersebut sudah naik cukup signifikan. Dengan PMAC, imbuh Dewi, konsumen bisa membeli rumah lain atau kedua tanpa terikat aturan loan to value (LTV) yang mewajibkan uang muka 30 persen untuk rumah pertama dan 40-50 persen untuk rumah kedua dan selanjutnya.

“Jadi beli rumah kedua secara tunai, tapi bank tetap akan memeriksa pembelian rumah keduanya ini dan meminta bukti pembelianya. Yang dijadikan jaminan tetap rumah yang pertama dan bank juga akan melakukan taksiran (appraisal) kepada rumah yang menjadi agunan,” lanjutnya.

Sejak diluncurkan awal tahun lalu hingga saat ini portofolio PMAC sudah mencapai 30 persen dari seluruh portofolio PermataBank yang nilainya belasan triliun. Rumah yang diagunkan  nilainya mulai Rp300 juta.

Dewi mengakui, sejak BI menerbitkan aturan LTV, KPR untuk rumah baru cenderung turun. Sebaliknya, KPR  untuk rumah seken semakin meningkat. KPR Permata Bank Syariah juga mengalami peningkatan. “KPR Syariah banyak dilirik karena kewajiban uang mukanya lebih rendah 10 persen, jadi untuk rumah baru bisa 20 persen, selanjutnya 30 dan 40 persen untuk rumah ke-2 dan 3,” jelasnya.

Perhitungan bagi hasil (istilah bunga di sistem konvensional) pada sistem syariah lebih rendah, yaitu 10,8 persen, sementara KPR konvensional 11 persen untuk dua tahun pertama. Bunga pasar (floating) yang berlaku saat ini di PermataBank 13,5 persen. Target penyaluran KPR PermataBank tahun  ini Rp5 triliun, sama dengan tahun lalu.